(Vibiznews-Property)-Sektor properti diperkirakan akan terus membaik pasca krisis ekonomi global yang dampaknya juga dirasakan di Indonesia meski tidak separah negara-negara lain di dunia.
"Hampir semua sub sektor properti mulai dari perkantoran, ritel, dan hunian mengalami perbaikan pada awal berakhirnya krisis ekonomi dunia 2009," kata Direktur Riset dan Konsultan Procon Savills, Utami Prastiana di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan, krisis ekonomi global yang kembali terjadi pada 2008 ternyata juga memukul seluruh sub sektor properti meski pada 2009 sebagian kembali pulih.
Seperti sektor perkantoran yang perkembangannya terkait erat dengan perkembangan investasi langsung mengalami kemunduran pada krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 dan 2008.
Meski kinerja sempat turun pada 2008 tetapi pada 2009 menunjukkan tingkat penyerapan positif serta hanya dua kwartal pasca krisis global pulih dan mencapai tingkat terbaik 2009, jelasnya.
Sektor ritel dalam tiga dekade tumbuh pesat dan hal ini dapat dilihat dari ruang yang dipasarkan mengalami kenaikan. Apabila pada 1980 baru 31 ribu meter persegi, 2009 sudah naik menjadi 4,7 juta meter persegi, jelasnya.
Pasokan bersih juga tidak terlalu terpengaruh akibat krisis ekonomi apabila dekade I rata-rata pasokan 112 ribu meter persegi, dekade III sudah 380 ribu meter persegi.
Perkembangan ritel menyebar lebih luas dalam dekade ketiga dimulai Jakarta Utara dengan pasokan terbesar menyusul di kawasan bisnis Jakarta serta Jakarta Selatan. Sedangkan di sektor hunian bertingkat apartemen krisis ekonomi 1998, tetapi pulih pada pertengahan 2000.
Perkembangan 2000 muncul konsep hunian yang digabung dengan komersial atau "mixed use" serta terjadi pergeseran tidak sekedar hunian tetapi juga investasi, jelasnya.
"Kami melihat konsep baru ditawarkan proyek-proyek seperti Central Park, St. Moritz, Rasuna Epicentrum, dan Kemang Village," ujarnya.
Sedangkan untuk hunian tapak (bukan bersusun) didominasi kawasan skala besar seperti BSD City, Bintaro Jaya, Kota Modern, Alam Sutera seiring pembangunan Tol Jakarta - Tangerang, Jakarta - Cikampek dan Tol Lingkar Luar Jakarta JORRI dan II.
sumber: vibiznews.com
"Hampir semua sub sektor properti mulai dari perkantoran, ritel, dan hunian mengalami perbaikan pada awal berakhirnya krisis ekonomi dunia 2009," kata Direktur Riset dan Konsultan Procon Savills, Utami Prastiana di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan, krisis ekonomi global yang kembali terjadi pada 2008 ternyata juga memukul seluruh sub sektor properti meski pada 2009 sebagian kembali pulih.
Seperti sektor perkantoran yang perkembangannya terkait erat dengan perkembangan investasi langsung mengalami kemunduran pada krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 dan 2008.
Meski kinerja sempat turun pada 2008 tetapi pada 2009 menunjukkan tingkat penyerapan positif serta hanya dua kwartal pasca krisis global pulih dan mencapai tingkat terbaik 2009, jelasnya.
Sektor ritel dalam tiga dekade tumbuh pesat dan hal ini dapat dilihat dari ruang yang dipasarkan mengalami kenaikan. Apabila pada 1980 baru 31 ribu meter persegi, 2009 sudah naik menjadi 4,7 juta meter persegi, jelasnya.
Pasokan bersih juga tidak terlalu terpengaruh akibat krisis ekonomi apabila dekade I rata-rata pasokan 112 ribu meter persegi, dekade III sudah 380 ribu meter persegi.
Perkembangan ritel menyebar lebih luas dalam dekade ketiga dimulai Jakarta Utara dengan pasokan terbesar menyusul di kawasan bisnis Jakarta serta Jakarta Selatan. Sedangkan di sektor hunian bertingkat apartemen krisis ekonomi 1998, tetapi pulih pada pertengahan 2000.
Perkembangan 2000 muncul konsep hunian yang digabung dengan komersial atau "mixed use" serta terjadi pergeseran tidak sekedar hunian tetapi juga investasi, jelasnya.
"Kami melihat konsep baru ditawarkan proyek-proyek seperti Central Park, St. Moritz, Rasuna Epicentrum, dan Kemang Village," ujarnya.
Sedangkan untuk hunian tapak (bukan bersusun) didominasi kawasan skala besar seperti BSD City, Bintaro Jaya, Kota Modern, Alam Sutera seiring pembangunan Tol Jakarta - Tangerang, Jakarta - Cikampek dan Tol Lingkar Luar Jakarta JORRI dan II.
0 komentar:
Posting Komentar